Tangkasi (Tarsius Spectrum Spectrum)

Tarsius adalah primata dari genus Tarsius, suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae, satu – satunya famili yang bertahan dari ordo Tarsiiformes. Meskipun grup ini dahulu kala memiliki penyebaran yang luas, semua spesies yang hidup sekarang hanya ditemukan di pulau-pulau di Asia Tenggara, termasuk di daratan sulawesi. Anatomi dan Fisiologi Tarsius, memiliki tubuh kecil dengan mata yang sangat besar, tiap bola matanya berdiameter sekitar 16 mm dan berukuran sebesar keseluruhan otaknya. Kaki belakangnya juga sangat panjang. Tulang tarsus di kakinya sangat panjang dan dari tulang tarsus inilah tarsius mendapatkan nama. Panjang kepala dan tubuhnya 10 sampai 15 cm, namun kaki belakangnya hampir dua kali panjang ini, mereka juga punya ekor yang ramping sepanjang 20 hingga 25 cm.

Jari-jari mereka juga memanjang, dengan jari ketiga kira-kira sama panjang dengan lengan atas. Di banyak ujung jarinya ada kuku namun pada jari kedua dan ketiga dari kaki belakang berupa cakar yang mereka pakai untuk merawat tubuh. Bulu tarsius sangat lembut dan mirip beludru yang bisanya berwarna cokelat abu-abu, cokelat muda atau kuning-jingga muda. tarsius tidak mempunyai sisir gigi, dan susunan gigi yang juga unik.

Semua jenis tarsius bersifat nokturnal, namun seperti organisme nokturnal lain beberapa individu mungkin lebih banyak atau sedikit beraktivitas selama siang hari. Tidak seperti kebanyakan binatang nokturnal lain, tarsius tidak memiliki daerah pemantul cahaya (tapetum lucidum) di matanya. Mereka juga memiliki fovea, suatu hal yang tidak biasa pada binatang nokturnal. Otak tarsius berbeda dari primata lain dalam hal koneksi kedua mata dan lateral geniculate nucleus, yang merupakan daerah utama di talamus yang menerima informasi visual. Rangkaian lapisan seluler yang menerima informasi dari bagian mata ipsilateral (sisi kepala yang sama) and contralateral (sisi kepala yang berbeda) di lateral geniculate nucleus membedakan tarsius dari lemur, kukang, dan monyet, yang semuanya sama dalam hal ini.

Tangkasi (Tarsius spectrum spectrum) adalah salah satu endemik penghuni Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan Taman Nasional Hutan Nantu. Tarsius Spectrum dikenal hidup endemik di hutan semak Sulawesi. Binatang ini bisa ditemukan hidup liar di Minahasa, Bitung, Dumoga, dan Gorontalo. Bahasa setempat menyebutnya tangkasi. Spesies lain tarsius juga bisa ditemukan di hutan semak Sumatera, Bangka, dan Kalimantan, serta Filipina.

Sejak tahun 1990, Tarsius telah masuk dalam “daftar merah” IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources)-lembaga internasional yang bergerak pada perlindungan sumber daya alam. Tarsius dianggap sebagai binatang yang terancam kepunahan.

Binatang ini monogami, hanya berpasangan dengan satu lawan jenis. Konon, begitu salah satu mati, tidak berapa lama pasangan monogaminya akan mati juga. Tarsius menghabiskan sebagian besar hidupnya di atas pohon. Hewan ini menandai pohon daerah teritori mereka dengan urine. Tarsius berpindah tempat dengan cara melompat dari pohon ke pohon. Hewan ini bahkan tidur dan melahirkan dengan terus bergantung pada batang pohon. Tarsius tidak dapat berjalan di atas tanah, mereka melompat ketika berada di tanah.

Tarsius merupakan satwa insektivora, dan menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, kadal dan kelelawar. Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak. Tarsius tidak pernah sukses membentuk koloni pembiakan dalam kurungan, dan bila dikurung, tarsius diketahui melukai dan bahkan membunuh dirinya karena stres.

You are here: Home