DR. Ir. Lynn Clayton

DR. Ir. Lynn ClaytonNama saya DR. Ir. Lynn Clayton, asal dari Inggris, pekerjaan saya peneliti/dosen di Universitas Oxford, Inggris. Saya sejak kecil tertarik dengan alam ciptaan Tuhan beserta isinya. Saya sering berpikir bagaimana melestarikan flora dan fauna agar tidak punah. Walaupun sebetulnya lingkungan keluarga saya tidak ada yang berprofesi sebagai pegawai kehutanan atau latar belakang pendidikan kehutanan. Bahkan kedua orang tua saya ingin saya menjadi guru keterampilan masak mermasak, jahit-menjahit. Hutan Nantu dan Sungai Paguyaman. Dalam ingatan saya pada umur 13 tahun saya bercita-cita ingin menjadi konservationis international dan cita-cita itu terwujud waktu umur 15 tahun saya sudah bergabung dengan LSM lingkungan (nama Royal Society for the Protection of Birds, RPSB) di Inggris sebagai sukarelawan. Itulah awal ketertarikan saya kepada hutan dan isinya. Pada saat mengikuti pendidikan S1 saya mendapat beasiswa selama satu tahun dari Universitas Oxford untuk melakukan penelitian, melakukan survey dan melakukan ekspedisi di hutan Sulawesi (untuk buku “The Ecology of Sulawesi” bersama DR. Anthony J. Whitten). Petualangan saya di hutan dimulai di kota Kendari tahun 1986 kemudian menyelusuri pulau-pulau terpencil yang ada di Sulawesi Tenggara, kemudian ke Sulawesi Tengah di Taman Nasional Morowali, Danau Poso dan, tanpa terasa, sampailah saya di bumi Hulondalo yang tercinta ini, pada tahun 1988. Petualangan ini saya lakukan sendirian dengan biaya yang sangat minim, penguasaan bahasa Indonesia yang sangat sedikit tapi saya sangat puas dan bangga. Mungkin inilah jalan hidup saya sehingga, tanpa terasa 20 tahun sudah saya berada di Gorontalo dan meraih gelar S3 dari hasi penelitian di Hutan Nantu, Paguyaman (berjudul “Conservation Biology of the Babirusa in Sulawesi, Indonesia”).

Pengalaman selama 15 tahun jika saya ceritakan semua akan sangat panjang. Karena itu saya mencoba menyampaikan kegiatan penelitian saya di Gorontalo baik suka, duka, yang saya lihat, yang saya amati dan yang saya rasakan selama menjadi konservationis di Gorontalo dalam waktu yang ada. Tahun 1988 saya mengajukan proposal tentang penelitian biologi babirusa di Sulawesi untuk studi pasca sarjana. Tahun 1989 selama 6 bulan saya masuk keluar hutan Sulawesi, mulai dari Sulawesi Tengah, Popayato, Marisa, Tilamuta, Suawa dan Molibagu untuk mencari lokasi penelitian, namun tidak menemukan tempat yang cocok. Dalam keadaan yang hampir putus asa, dengan kulit badan yang merah kehitaman akibat sengatan matahari saya mencoba menyelusuri hutan Paguyaman. Pada saat itu saya naik prahu dari Tanjung Harapan di temani oleh penduduk lokal bernama KaOlie, yang sudah pernah melihat babirusa di kawasan Sungai Nantu. Waktu yang ditempuh kurang lebih 6 jam. Kami bermalam di tengah hutan, padahal orang orang masih takut dengan Polahi. Besok paginya saya kagum, terharu dan bersyukur dapat menemukan lokasi yang terbuka berukuran kurang lebih 20 meter kali 60 meter, yang dikelilingi oleh pepohonan dan di tengah lokasi itu terdapat sumber air panas. Seharian penuh di balik dedaunan saya mengamati lokasi itu, ternyata lokasi itu merupakan tempat berkumpul hewan unik dan langka. Saya berpikir inilah tempat satu-satunya di dunia untuk dapat melihat langsung hewan tersebut di alam terbuka. Orang menyebut lokasi itu “Adudu”. Adudu menjadi alamat saya sejak saat itu sampai sekarang! Di tempat ini saya pernah lihat rombongan babirusa sampai 44 ekor saling bercengkrama, minum dan menjilati tanah di kubangan itu yang kaya akan mineral. Babirusa merupakan hewan unik karena memiliki taring yang tumbuh dari hidung, bengkok ke belakang sampai di depan matanya. Sejak 1988 sampai 1994 fokus kegiatan yang saya lakukan adalah mengumpulkan dan mencatat data tentang perilaku babirusa dan habitatnya, serta ekosistem hutan Nantu. Pada waktu itu air Sungai Paguyaman masih sangat jernih dan melimpah, serta tidak pernah kering. Di samping kiri kanan sungai masih ditumbuhi pepohonan yang perawan. Pernah dalam perjalanan dengan perahu saya melihat buaya di pinggir sungai dan juga rusa sedang minum di sungai, berbagi jenis burung yang indah dan menarik. Tertarik dengan keadaan tersebut saya dengan teman-teman (dari IPB Bogor, Kanwil Kehutanan Sulawesi Utara – waktu itu dan Dephut) memulai upaya-upaya ke Dephut Jakarta untuk menjadikan hutan lokasi Paguyaman tersebut sebagai kawasan konservasi. Saat itu belum ada satu pun perusahan HPH yang melakukan eksploitasi di hutan Paguyaman, sehingga suasana hutan Paguyaman masih sejuk. Ada kenangan yang tak akan terlupakan sampai sekarang, yakni bulan Januari 1994, jauh dari sanak saudara saya terkena malaria tropika yang cukup parah sehingga saya harus menjalani perawatan dokter. Kenangan lainnya pernah di suatu malam sedang asyik-asyiknya kami tidur, tiba-tiba pondok yang kami tempati di bawah banjir, sehingga kami harus tidur di dalam hutan.

Tahun 1994-1999. Sebagai seorang konservationis saya mengangap bawa periode tersebut merupakan periode pengrusakan besar-besaran terhadap hutan Paguyaman pada umumnya dan hutan Nantu khususnya. Saat itu HPH PT. Taiwi, milik Barito Grup, mulai melakukan eksploitasi hutan Paguyaman secara besar-besaran demikian pula Pabrik Gula PT. Naga Manis yang juga melakukan penebangan hutan untuk dijadikan lahan tebu. Setiap hari baik siang malam hari, saya diliputi kesedihan yang cukup dalam mendengar bunyi pohon yang roboh, bunyi sensor yang meraung-raung, memporak-porandakan hutan yang saya kagumi. Bahkan pernah di satu malam saya tidak bisa tidur karena melihat cahaya lampu truk logging yang beroperasi dengan suara ribut di telinga, menarik kayu yang sudah ditebang. Yang lebih menyedihkan lagi lokasi lain yang ada di cabang kiri sungai Paguyaman, yang menyerupai Adudu dan sering dikunjungi hewan langka, yakni di Nooti dan Mohiolo hancur berantakan akibat penebangan hutan. Saya pikir begitu teganya manusia merusak lingkungan hidup yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran agama. Hampir setiap hari juga saya melihat hewan langka seperti babirusa, rusa dan anoa yang mati akibatnya jerat yang sengaja dipasang oleh orang yang tidak bertangung jawab. Padahal hewan tersebut termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan juga dilindungi oleh hukum internasional, karena tercantum dalam buku merah IUCN dan CITES. Tidak hanya pepohonan dan hewan yang dihancurkan tetapi sungai pun tidak luput dari upaya pencemaran berupa pemberian racun untuk menangkap ikan dan udang. Akibat lainnya dari perusakan tersebut bisa terlihat bahwa Sungai Paguyaman menjadi tidak beraturan bahkan selalu berpindahpindah karena tidak adanya pepohonan di pingiran sungai sebagai penyangga. Menyadari keadaan ini selaku pemerhati lingkungan tergerak hati saya untuk berjuang sekuat tenaga dengan segala kemampuan yang ada untuk meningkatkan upaya pengamanan hutan dengan bantuan aparat polhut dan kepolisian. Upaya lain yang di lakukan adalah mempublikasikan keunikan dan keanekaragaman hayati Hutan Nantu dalam skala lokal, nasional dan internasional. Setelah perjuangan panjang dan melelahkan akhirnya Hutan Nantu ditetapkan oleh Menteri Kehutanan sebagai hutan konservasi dengan status Suaka Marga Satwa (SMS) pada tahun 1999 seluas 31.215 hektar. Keputusan Menteri tersebut merupakan secercah harapan untuk mengembangkan dan menata kembali hutan Nantu yang hampir rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Walaupun pada periode ini bagi saya merupakan periode perusakan hutan Nantu, namun saya bersyukur karena pada periode ini yakni 1996 saya berhasil meraih doktor melalui ujian di Oxford University, dengan topik disertasi biologi babirusa di Paguyaman, dan ini merupakan yang pertama di dunia disertasi mengenai babirusa di habitat alam.

Sekelumit tentang Hutan Nantu dari hasil penelitian S3 saya:

  • Hutan Nantu merupakan habitat terbaik berbagai jenis satwa liar (babirusa, anoa, Macaca heckii, tarsius dan lebih dari 90 jenis burung, termasuk 35 jenis yang endemik (hanya terdapat di Sulawesi di seluruh dunia).
  • Hutan Nantu sangat penting karena di Nantu terdapat “mata air panas asin mengandung belerang” yang merupakan daya tarik utama berbagai jenis satwa liar.
  • Struktur kelompok sosial babirusa: kelompok babirusa yang diamati terdiri 1-13 ekor (n = 393), 93% terdiri dari lima ekor atau kurang. Tipe kelompok yang paling sering terlihat adalah babirusa jantan soliter dan kelompok-kelompok yang dikepalai oleh babirusa betina.
  • Pola harian dalam menjilat air garam bisa terlihat dengan jelas, kelompokkelompoknya mengunjungi kolam antara jam 17.00–18.00, tetapi tidak ada pola musiman yang tampak.
  • Selama 60 jam monitoring di kolam Adudu Babirusa adalah pengguna kolam yang paling sering, 98% dari kegiatan yang diamati di sana dilakukan oleh babirusa dan sisa oleh mamalia endemik lainya.
  • Analisis geokimia terhadap tanah dan air di sekitar kolam penjilatan menunjukkan bahwa kandungan mineral di kolam Adudu ini lebih tinggi daripada di dalam kolom-kolam kontrol, termasuk kandungan sodium di dalam tanah yang mencapai 2.7 kali lipat dan pada air sebanyak 36 kali lipat.
  • Beberapa kemungkinan alasan kunjungan babirusa ke kolam penjilatan adalah untuk memperoleh berbagai mineral, melindungi perut mereka agar tidak menjadi terlalu asam dan perlindungan dari racun yang ada di biji buah “Pangi” yang babirusa sering makan.
  • Babirusa sangat terancam oleh perdagangan dagingnya di Sulawesi Utara. Pedagang daging menjual daging asal Gorontalo dan Palu ke pasar-pasar di Minahasa, Sulawesi Utara. Saya membuat studi kasus untuk melihat perdagangan ini secara mendalam dengan analisa transaksi perdagangan mingguan (Desember 1991 – Juni 1994). Setelah tahun 2000 fokus penelitian saya lebih ke penelitian terapan, tidak lagi hanya satu jenis tetapi seluruh ekosistem beserta isinya. Hutan Nantu sangat penting buat masyarakat Gorontalo sebagai Daerah Tangkapan Air yang sangat penting. Sungai Paguyaman adalah sungai yang termasuk paling panjang (99.9 km) di Sulawesi bagian utara. Stasiun penelitian, hutan Nantu.

Kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan adalah:

  • Mendirikan stasiun penelitian sebagai tempat dan sarana bagi para pelajar lokal maupun internasional (SD sampai dengan S3) dan membantu mereka belajar dan memahami keanekaragaman hayati dan satwa liar Sulawesi melalui workshop buat peserta lokal (termasuk anak-anak SD dari desa-desa yang tertangga dengan hutan Nantu).
  • Menyelenggarakan kegiatan yang dapat menambah pendapatan bagi penduduk lokal, khususnya saya memberikan tanaman jati 7.000 pohon siap tanam dan kakao 20.000 pohon kecil kepada masyarakat yang sekarang hidup di luar batas hutan Nantu, untuk ditanam di lahan mereka sendiri (jenis sesuai permintaan dari masyarakat sendiri).
  • Meningkatkan kapasitas Universitas lokal melalui beasiswa ke beberapa akademisi lokal maupun nasional:
    1. Iswan Dunggio, dosen muda Universitas Gorontalo, untuk mengambil S2 di IPB Bogor mengenai konservasi).
    2. Irwan Bempah, dekan fakultas Kehutanan, Universitas Gorontalo, untuk mengambil S2 di Universitas Mulawarman, Kalimantan dengan disertasi mengenai kelolaan Hutan Nantu secara Multi-pihak.
    3. Rachmad Djaba, pemerhati lingkungan asal Gorontalo, untuk ambil S2 di Universitas Gorontalo.
    4. Ani Kartikasari, peneliti asal Bogor yang baru menyelesaikan studi di Selandia Baru, untuk penelitian S3 di Gorontalo mengenai Persepsi Masyarakat Lokal Gorontalo mengenai Keanekaragaman Hayati.
  • Memberikan beasiswa kepada dua anak yang tidak mampu dari desa-desa yang terdekat Hutan Nantu untuk belajar di SMP 6 sampai sekarang belajar di SMA Gorontalo.
  • Meningkatkan upaya pendidikan lingkungan bagi anak sekolah di sekitar kawasan Hutan Nantu berupa pembagian buku tulis yang bergambar hewan langka, membantu perlengkapan sekolah sekitar hutan Nantu melalui sumbangan perabot ke dua SD Pangahu dan SD Tanga (masingmasing sekolah 30 bangku sekolah dan 30 meja panjang), fasilitasi tenaga guru asal Australia selama satu tahun membantu mengajar Bahasa Inggris di SD Pangahu (tiap hari sabtu selama satu tahun, tahun 2004). Membuat perpustakan mini Ekologi di SD Pangahu. Mempublikasikan buku cerita anak “Tempat Istimewa Di Dalam Hutan” (5.000 buku dibagikan ke anakanak di Gorontalo dan sekitar hutan Nantu, buku terlampir). SD Pangahu, Kecamatan Tolanggohula.
  • Mempopulerkan kawasan konservasi hutan Nantu secara skala lokal, regional dan internasional. Skala lokal melalui fasilitasi lomba lukis Hutan Nantu (3 x), bagi kalender (4000 kalender). Juga fasilitasi film-film dari NHK Japan, Metro TV, TVRI, BBC London, TF1 Perancis mengenai Hutan Nantu.
  • Kerjasama dengan Pemda Kabupaten Gorontalo membuat PERDA mengenai Konservasi Hutan Nantu.
  • Upaya memberantas illegal logging di dalam Hutan Nantu dengan bantuan aparat kepolisian (Brimob) dari Polda Gorontalo di samping asisten peneliti yang setiap hari sejak tahun 1997 melakukan patroli.
  • Bantuan kesehatan masyarakat sekitar kawasan Nantu melalui fasilitasi klinik kecil di buat oleh Fakultas Kedoktoran Universitas Sam Ratulangi di desa Pangahu, dan bantuan beras kepada masyarakat pada waktu musim panas panjang.

Selanjutnya berdasarkan pengalaman yang saya amati dan yang saya alami selama ini sesungguhnya sampai saat ini ancaman pengrusakan hutan Nantu masih sangat tinggi. Ibarat orang yang berjalan kita ini sudah berada di persimpangan jalan, apakah kita mau membiarkan hutan Nantu ini rusak, atau perlu ada upaya-upaya penanganan agar hutan Nantu ini dapat dinikmati sampai anak cucu kita. Patroli menemukan hasil illegal logging di Hutan Nantu. Akhirnya pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan beberapa usulan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan Nantu sebagai berikut: Pertama: Hutan Nantu dapat dijadikan sarana pendidikan dan penelitian bahkan sebagai labotorium alam untuk para siswa dan mahasiswa serta peneliti lokal, nasional dan internasional. Kedua: saya usulkan perlu adanya forum untuk mendiskusikan upaya-upaya perlindungan dan pengelolaan hutan Nantu. Ketiga: upaya penegakan hukum perlu ditingkatkan. Keempat: perlu ada upaya pemberdayakan ekonomi masyarakat sekitar Hutan Nantu melalui perbaikan dan peningkatan usaha pertanian. Ahirnya: Hutan Nantu, Propinsi Gorontalo dapat dijadikan model/contoh dari sebuah kawasan konservasi yang dikelola dengan baik, sehingga kawasan ini akan dikenal di seluruh dunia sebagai sedunia sebagai contoh kawasan yang dikelola dengan baik sehingga satwa liar dan habitatnya terlindungi dan aman, dan memiliki hubungan harmonis yang saling menguntungkan antara kawasan konservasi dan penduduk sekitar hutan. Juga Hutan Nantu sangat penting buat Propinsi Gorontalo karena bisa menjadikan obyek ekoturisme. Sebagai gambaran, di negara Ruwanda, Afrika, pemerintah telah mengandalkan ekoturisme sebagai sumber penghasilan. Sebagai contoh, jika orang ingin melihat hewan gorila di habitat alam yang ada di Ruwanda maka mereka perlu mendaftar lebih dulu, dan harus antri berberapa tahun serta mengeluarkan biaya yang cukup besar, dan mereka MAU melakukan ini. Keadaan di Ruwanda menurut saya sebagai wakil masyarakat internasional hutan Nantu mempunyai prospek seperti yang ada di Ruwanda, bahkan menurut saya dapat melebihi dari Ruwanda oleh karena di Ruwanda orang hanya bisa melihat gorila saja tetapi turis yang datang ke hutan Nantu bisa melihat langsung berberapa jenis hewan endemik, seperti babirusa, anoa, tarsius, monyet dan bermacam burung yang satu-satunya di dunia dan dapat di lihat langsung di habitat aslinya. Hal ini bisa terwujud jika kita menggunakan managemen profesional dalam pengelolaa kawasan Nantu yang di buat oleh orang yang tingkat pedulian terhadap lingkungan sangat tinggi. Apabila pengelolaan hutan Nantu ini dapat di laksanakan secara profesional kami yakin bahwa hutan Nantu dapat menjadi contoh sebuah kawasan konservasi yang dikelola dengan baik, dan dikenal di seluruh dunia sebagai kawasan di mana penduduk lokal terlibat aktif dalam upaya konservasi. Ahirnya pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pemerintah Propinsi Gorontalo, kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan kepada seluruh masyakat Sulawesi yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada saya baik secara langsung maupun tidak langsung. Demikian yang dapat saya sampaikan, lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. I am very sorry for any mistakes that I have made.


Terima kasih.
DR. Ir. Lynn Clayton


(Photo by : Rosyid A Azhar)

You are here: Home