Fakta bahwa kekayaan alam Indonesia melimpah ruah, tak perlu diragukan lagi. Sayangnya, saat ini kekayaan alam tersebut terus tergerus karena ulah tangan-tangan manusia.
Bahkan, setiap jamnya hutan di seluruh wilayah di Indonesia berkurang seluas lapangan sepak bola akibat global warming dan pembakaran hutan secara liar oleh pihak-pihak yang tak bertanggungjawab lainnya. Salah satu hutan di Indonesia yang menjadi ikon terpenting di dunia adalah Hutan Nantu di Provinsi Gorontalo.
“Hutan Nantu ini dikatakan cukup penting karena mengandung keanekaragaman hayati yang sangat pentingn secara Internasional,” jelas Dwiati Nivita Rini, dari Yayasan Adudu Nantu Internasional (YANI), sebuah komunitas pemerhati lingkungan dan masyarakat sekitar Hutan Nantu.
Dwiati juga menjelaskan bahwa Hutan Nantu merupakan satu dari beberapa hutan yang masih utuh di sekitar Sulawesi. Hutan Nantu juga berada dalam kawasan “Wallacea” atau zona transisi dan campuran khas fauna Asia dan Australasia. Di kawasan ini, biasanya hidup berbagai jenis endemik (khas) Sulawesi seperti babirusa, anoa, monyet Sulawesi, 90 jenis burung dan lain-lainnya. Salah satu faktor penting dari kawasan Hutan Nantu adalah karena hutan ini merupakan daerah penyangga daerah aliran sungai (DAS). Begitu strategisnya lokasi Hutan Nantu, sehingga hutan ini ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa oleh pemerintah dengan SK Menteri Kehutanan No. 573/Kpts-II/1999.
“Karena peran penting dan strategisnya itulah, maka Hutan Nantu menjadi penting untuk dijaga dan dilestarikan,” tambah Dwiati.
Komunitas YANI inilah yang saat ini secara konsisten melakukan berbagai kegiatan secara langsung maupun tidak langsung dengan konversi Hutan Nantu selama 20 tahun terakhir ini. Salah satunya adalah melalui program pendidikan lingkungan.
“Pendidikan Lingkungan menjadi prioritas utama kami karena dengan proses edukasi inilah kami membangun kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif menjaga dan melestarikan hutan Nantu,” kata Dwiarti lagi.
Program pendidikan lingkungan yang digagas oleh komunitas YANI meliputi upaya-upaya sosialisasi pelestarian lingkungan, kampanye, talkshow, hingga karyawisata bertema ekologi, “dan buku adalah media utama yang kami gagas dalam program pendidikan lingkungan ini.”
Dwiarti menambahkan, komunitas YANI bahkan telah berhasil menyusun buku-buku cerita untuk anak-anak tentang babirusa. Selain itu, YANI juga turut mendistribusikan buku-buku tentang Hutan Nantu dan flora dan fauna yang berada di dalamnya, mulai dari perpustakaan daerah di sekitar Sulawesi dan Gorontalo, sekolah-sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi.
“Kami yakin bahwa buku adalah jendela dunia, maka buku juga bisa menjadi pintu untuk menggugah kesadaran betapa pentingnya menjaga hutan kita, khususnya hutan Nantu ini,” pungkas Dwiarti. [nyimas]
(http://www.annida-online.com)
Tarsius adalah primata dari genus Tarsius, suatu genus monotipe dari famili Tarsiidae.
Babirusa (Babyrousa babirussa) hanya terdapat di sekitar Sulawesi.
Burung maleo (macrocephalon) adalah salah satu satwa khas (endemik).
Hutan Nantu merupakan habitat terbaik berbagai jenis satwa liar (babirusa, anoa, Macaca heckii, tarsius dan lebih dari 90 jenis burung, termasuk 35 jenis yang endemik (hanya terdapat di Sulawesi di seluruh dunia).Saat ini Nantu merupakan satu dari hanya beberapa saja wilayah hutan yang masih utuh di Sulawesi. Nantu menjadi sangat penting karena berada di kawasan “Wallacea” (zona transisi dan campuran khas fauna Asia dan Australasia) di mana hidup berbagai jenis endemik (khas) Sulawesi di antaranya Babirusa (Babyrousa babyrussa), Anoa (Bubalus depressicornis), Monyet Sulawesi (Macaca heckii), Tarsius (Tarsius spectrum), Babi Hutan (Sus celebensis), serta 90 jenis burung yang 35 jenis di antaranya adalah khas Sulawesi.

























